YOGYAKARTA — Upaya memperkuat penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) di Daerah Istimewa Yogyakarta terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas pengelola di tingkat desa. Kemendukbangga/BKKBN DIY melaksanakan Kegiatan Fasilitasi dan Pembinaan Kampung Keluarga Berkualitas Tahun 2026 pada Kamis (20/8), bertempat di Ruang Widya 1 Kantor Perwakilan BKKBN DIY. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memberikan fasilitasi, pembinaan, pendampingan, dan penguatan kapasitas pengelola agar mampu menyelenggarakan program secara lebih terintegrasi. Langkah tersebut penting karena Kampung Keluarga Berkualitas tidak hanya berorientasi pada program kependudukan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan penguatan institusi keluarga dalam seluruh dimensinya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, keluarga, dan masyarakat.
“Pembinaan ini diarahkan agar pengelola Kampung Keluarga Berkualitas semakin kuat dalam mengelola kegiatan sekaligus mampu mendokumentasikan dan melaporkannya dengan baik. Kenaikan klasifikasi bukan sekadar status, tetapi menunjukkan semakin baiknya kapasitas pengelola dan keberlanjutan program di tingkat desa,” ujar Ketua Tim Kerja Pengelolaan Penduduk, dr. Iin Nadzifah Hamid.
Kegiatan ini secara khusus menyasar Kampung KB yang menjadi lokus peningkatan klasifikasi menuju Mandiri/Berkelanjutan pada 2026. Diikuti 42 peserta yang terdiri atas Pokja Kampung KB, Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) pembina, serta unsur OPD kabupaten/kota di DIY, meliputi Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Sejumlah Kampung KB yang mengikuti pembinaan antara lain Wedomartani, Sidomoyo, Sidoarum, Triharjo, Tamanmartani, Minomartani, Margoluwih, Wonokromo, Wonolelo, Srigading, Girirejo, Temon Kulon, Cerme, Putat, Ponjong, Bendungan, Ngeposari, Karangsari, dan Jetis. Pelibatan lintas unsur tersebut sejalan dengan semangat Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas, yang menekankan sinergi program dan kegiatan berbasis desa.
“Kami ingin setiap kegiatan yang sudah dilakukan di desa tidak berhenti sebagai aktivitas, tetapi tercatat, terdokumentasi, dapat dipantau, dan menjadi dasar untuk pengembangan program berikutnya,” tegas Sekretaris Perwakilan BKKBN DIY, Rohdhiana Sumariati S.Sos., M.Sc saat memberikan arahan dan membuka kegiatan tersebut.
Materi pertama “Strategi Peningkatan Klasifikasi Kampung Keluarga Berkualitas serta Pelaporan dan Pencatatan di Website Keluarga Berkualitas”. Evaluasi Klasifikasi Kampung KB diukur secara terstruktur melalui tiga variabel utama yang saling berkaitan. Variabel input mencakup kesiapan kelembagaan Pokja, regulasi, ketersediaan Rumah Data Kependudukan, hingga dukungan pendanaan multi-sumber. Variabel proses menilai dinamika operasional seperti pemanfaatan data kependudukan untuk Rencana Kerja Masyarakat serta sinergi lintas sektor. Sementara itu, variabel output mengukur dampak langsung berupa cakupan kepesertaan kelompok kegiatan, capaian kontrasepsi modern, pengaplikasian metode jangka panjang, hingga penurunan angka kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi.
Peserta tidak hanya memperoleh pemaparan materi, tetapi juga mengikuti praktik pencatatan dan pelaporan kegiatan melalui website Kampung KB. Pencatatan dan pelaporan digital terpadu pada portal resmi Kampung KB ini merupakan langkah konkrit optimalisasi keterbukaan dan akuntabilitas program. Pengelola Pokja diwajibkan melakukan pembaruan profil wilayah, pemutakhiran indikator Bangga Kencana, serta pencatatan setiap intervensi kegiatan secara rutin dan berkala. Setiap dokumentasi pelaporan mencakup rincian seksi Pokja pelaksana, instansi atau dinas yang terlibat, jumlah peserta, hingga unggahan bukti foto. Langkah ini memastikan rekam jejak program dapat dipantau langsung oleh belasan kementerian dan lembaga mitra secara transparan.
Selain strategi peningkatan klasifikasi, rangkaian pembinaan juga menghadirkan best practice pengelolaan Kampung Keluarga Berkualitas dari KKB Poncosari, Bantul, dilanjutkan dengan materi pelaporan dan pencatatan di website Kampung KB, serta sesi tanya jawab dan diskusi. Melalui forum tersebut, pengelola diharapkan dapat memperkuat pengetahuan Pokja dalam pengelolaan Kampung KB, meningkatkan keterampilan pelaporan kegiatan, serta mendorong perubahan klasifikasi menuju Mandiri/Berkelanjutan.
Pembinaan ini menjadi semakin strategis karena Kampung Keluarga Berkualitas di DIY telah terbentuk di seluruh desa, yakni sebanyak 438 desa/kelurahan, namun masih diperlukan peningkatan kapasitas terutama bagi Kampung KB baru dalam pengelolaan maupun pelaporan kegiatan. Dengan penguatan kapasitas pengelola, integrasi program, dokumentasi yang tertib, serta pemanfaatan sistem pelaporan berbasis digital, Kampung Keluarga Berkualitas diharapkan semakin mampu menjadi wadah nyata untuk meningkatkan kualitas keluarga dan masyarakat. Kegiatan Fasilitasi dan Pembinaan Kampung KB Tahun 2026 pada akhirnya diarahkan bukan hanya untuk memenuhi target administratif, tetapi untuk memastikan penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas berjalan semakin terukur, terintegrasi, dan berkelanjutan di tingkat desa.
Penulis : Dessy Phawestrina
Editor : Tiara Rosivanengtyas
Dokumentasi : Gisca Yunita Nuraeni
Rilis : Kamis, 20 Agustus 2026